Menjadi ibu yang baik bukanlah suatu pilihan, melainkan keharusan.
Menjadi wanita karier merupakan pilihan dan hak setiap wanita. Namun satu hal yang perlu diingat, apapun profesinya, kesibukan kantor bukan menjadi alasan untuk menelantarkan kewajiban sebagai ibu. Pilihan wanita karier diambil bila kita telah yakin bahwa kita mampu untuk dapat menjalani kesibukan kantor tanpa mengganggu kewajiban sebagai ibu. Well, aku bicara begini bukan karena aku sudah menjadi ibu yang baik (I haven’t even gotten married yet. Haha.), melainkan karena terinspirasi oleh Mama-ku. Alhamdulillah, aku diberikan nikmat dibesarkan oleh Papa dan Mama yang memperhatikan anak-anaknya dengan sangat detail.
Mama selalu bilang bahwa anak adalah titipan dari Allah SWT yang diberikan kepada kita dalam keadaan putih bersih. Kitalah yang mewarnai mereka. Bagaimana warna dan corak mereka kelak, merepresentasikan cara kita mendidik dan mengasuh mereka.
Mama sering sekali mengatakan bahwa orang tua berperan besar dalam perkembangan anak. Pertama, pada masa keemasan perkembangan otak anak, golden age, 0-6 tahun, anak akan lebih sering berada di dalam rumah setiap harinya. Selama golden age, utamanya pada usia 0-3 tahun, semua ilmu, baik secara fisik maupun psikologis, dapat terserap sempurna oleh otak anak. Kekurangan asupan nutrisi ataupun kekurangan stimulasi belajar serta pengembangan diri pada masa tersebut sangat tidak dianjurkan.
Kedua, saat usia sekolah, walaupun sebagian besar waktu anak akan dihabiskan di sekolah, sangat kecil kemungkinan guru berkontribusi besar pada pengembangan karakter anak secara detail mengingat fokus guru tersebar ke seluruh siswa yang jumlahnya banyak. Terlebih lagi, anak sudah terpapar oleh pengaruh lingkungan luar. Padahal di usia tersebut anak belum memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menyaring informasi dan melindungi dirinya dari pengaruh yang buruk.
Oleh karena itu, penting sekali bagi orang tua untuk mengawal ketat masa pertumbuhan dan perkembangan anak sampai dengan beranjak dewasa, agar dapat menanamkan pondasi yang kuat untuk pribadi anak tersebut, baik dalam berbagai aspek (1) hubungan dengan Tuhan, contohnya ibadah; (2) hubungan dengan diri sendiri dan nilai-nilai diri, contohnya menjaga kesehatan, rajin belajar dan melatih jujur; dan (3) hubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitar, contohnya berkata sopan kepada orang yang lebih tua. Banyak hal yang bila terlewatkan dapat berakibat fatal pada masa depan anak. Karakter, kebiasaan dan prinsip yang terbangun pada masa pertumbuhan anak akan menjadi dasar setiap sikap dan pengambilan keputusannya di masa depan.
Berkaca pada Mama, sesibuk apapun seorang ibu, dia harus sempat memastikan anaknya sarapan tiap pagi dengan menu yang sehat. Memastikan anaknya tidak terlambat dijemput tiap pulang sekolah. Memastikan anaknya belajar dan mengerjakan tiap tugasnya dengan baik. Mengevaluasi hasil belajar anaknya secara rutin tiap minggu dengan memeriksa nilai tugas ataupun ujiannya. Memastikan anaknya shalat lima waktu dan tidak bolos mengaji tiap sore. Seorang ibu harus dapat memastikan semua tentang anaknya berjalan baik, bagaimanapun caranya.
Karena itu berterimakasihlah pada ibu kita, terlebih mereka yang juga memilih menjadi seorang wanita karier. Menjalani dan menyeimbangkan keduanya merupakan hal yang sangat berat. Menjadi seorang ibu yang baik adalah pilihan profesi terhebat. Tidak ada ibu yang sempurna, namun semoga kita semua bisa mempelajari dan menjalani menjadi ibu yang baik juga ya, teman-teman. 🙂
Terima kasih, Mama. 🙂
- mentor forward, fear not
- stop fixing, start leading
- fast-track burnout recovery ritual
- pausing and thinking, active inactions
- Blogpost Review: The Nine Box Matrix